🏠 Home 💻 Versi Desktop ✍️ Redaksi
 


APBD Riau di Bawah Tekanan, Belanja ASN Jadi Sorotan
Senin, 26/01/2026 | 14:25


 

HebatRiau.com - PEKANBARU |  Pemerintah Provinsi Riau bersama DPRD tengah berpacu mengoptimalkan pendapatan daerah menyusul anjloknya Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang kini hanya berada di angka Rp8,3 triliun.

Kondisi ini jauh di bawah tren normal APBD Riau yang selama bertahun-tahun konsisten berada di atas Rp10 triliun.

Penurunan tajam tersebut memunculkan ancaman serius bagi keberlanjutan pembangunan daerah hingga kesejahteraan aparatur sipil negara (ASN).

Wakil Ketua DPRD Riau, Budiman Lubis menegaskan, jika hingga tahun anggaran 2027 APBD Riau tidak mampu menembus kembali batas Rp10 triliun, maka Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) ASN berpotensi dihapus.

“Kalau APBD kita tidak tercapai di atas Rp10 triliun, maka TPP pegawai terancam hilang. Ini bukan wacana, tapi konsekuensi regulasi,” ujarnya.

Budiman mengungkapkan, belanja pegawai Pemprov Riau pada tahun 2026 telah mencapai Rp3,4 triliun atau lebih dari 40 persen dari total APBD.

Padahal, berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (HKPD), porsi belanja pegawai dibatasi maksimal 30 persen.

“Aturan ini berlaku penuh paling lambat 1 Januari 2027. Tujuannya jelas, untuk mendorong produktivitas daerah dan efisiensi anggaran,” jelasnya.

Dengan struktur APBD saat ini, kata dia, pemerintah daerah berada dalam posisi rawan melanggar ketentuan fiskal nasional jika tidak segera meningkatkan pendapatan daerah secara signifikan.

DPRD Riau telah membentuk Panitia Khusus (Pansus) Optimalisasi Pendapatan, sementara Pemprov Riau juga menyiapkan tim terpadu untuk menggali potensi penerimaan daerah, mulai dari pajak, retribusi, hingga optimalisasi aset.

Budiman menegaskan, upaya tersebut tidak hanya menjadi tanggung jawab eksekutif dan legislatif, tetapi juga seluruh jajaran ASN.

“Tidak ada jalan lain. Semua harus ikut berpikir dan berkontribusi dalam meningkatkan pendapatan daerah. Kalau APBD kita bisa mencapai Rp10 hingga Rp11 triliun, maka TPP Insya Allah aman,” pungkasnya.

Jika APBD Riau gagal pulih, konsekuensinya tidak hanya pada TPP ASN. Pembangunan infrastruktur, pelayanan publik, hingga program sosial berpotensi terpangkas akibat keterbatasan fiskal.

Situasi ini menjadi peringatan dini bahwa penguatan basis pendapatan daerah merupakan agenda mendesak demi menjaga stabilitas keuangan daerah dan kesejahteraan aparatur pemerintahan.





 
 
 
  Berita Lainnya :
  • POLDA KEPRI INTENSIFKAN PENDEKATAN HUMANIS DAN DIALOG PUBLIK DI TENGAH ISU AIR BERSIH BATAM
  • Organisasi Masyarakat Nias Riau 'PKMNR' Dukung Independensi Polri dan Tolak Politisasi Institusi
  • Unjuk Rasa Aliansi Masyarakat Nias Selatan Berujung Pembakaran Camp Karyawan PT GRUTI
  • PT SJK Tegaskan Sistem Kerja Berbeda: Karyawan Tetap Digaji, Sopir Truk Berstatus Mitra Berbasis Tonase
  • Hotspot di Sumatera Melonjak, Riau Catat 62 Titik Panas
  • Restu Mendagri dan BKN Lengkap, Riau Tinggal Lantik Pejabat Definitif
  • APBD Riau di Bawah Tekanan, Belanja ASN Jadi Sorotan
  • Aipda BS Klarifikasi Isu Dugaan Penipuan, Imbau Media Lakukan Konfirmasi
  • Sidang Mediasi S. Hondro: Penggugat Dinilai Berbelit-belit, Kuasa Hukum Angkat Bicara
  • Ditsamapta Polda Kepri Respon Cepat Tangani Kebakaran Angkringan di Mega Legenda
  • Menkomdigi: Ekosistem Digital Aman Perkuat Kiprah UMKM Perempuan
  • Awali 2026, Menkeu Dorong Pertumbuhan Ekonomi Berkualitas
  • Agung Luncurkan Aplikasi Sip Aman Permudah Urus Izin Bangunan
  • Pastikan Internet Pendidikan Merata, Kemkomdigi Perluas Akses Belajar Digital hingga Daerah Terpencil
  • Realisasi Sementara APBN 2025, Menkeu Purbaya: APBN Tunjukkan Kinerja yang Solid
 
Komentar Anda :
 
HOME | VERSI DESKTOP | REDAKSI

Copyright © 2015-2025 hebatriau.com | Tegas Berwibawa & Santun
All Rights Reserved